Ayunda W Savitri - Okezone
(Foto: Science Daily)
NEW JERSEY – Sebuah studi baru yang
dilakukan oleh para peneliti dari University of Delaware dan Temple
University di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa anak-anak usia
prasekolah (3-6 tahun) yang diberi kesempatan bermain dengan balok, akan
membantu meningkatkan kecerdasan dan keterampilan.Di
mana, keterampilan tersebut akan memberinya kemudahan di kemudian hari
untuk belajar ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika
(STEM). Selain itu bagi mereka yang memiliki ketertinggalan dalam
keterampilan spasial, bermain balok menjadi sangat penting untuk
perkembangannya.
Untuk membuktikannya, para peneliti menguji 100 anak berusia sekira tiga tahun dari berbagai tingkat sosial ekonomi yang berbeda. Mereka diuji apakah dapat mengetahui bagian balok atas dan bawah serta mampu menyeleraskan potongan demi potongan.
Hasilnya sebagaimana dilansir dari Eurekalert, Selasa (24/9/2013), anak berusia tiga tahun dari keluarga berpenghasilan rendah lebih banyak tertinggal dalam keterampilan spasial, karena pengalaman bermain dengan balok dan mainan lainnya sebagai fasilitas pengrmbangan keterampilannya itu terbatas.
Adapun keterampilan matematika para balita itu dapat dilihat melalui caranya menyusun balok dan bagaimana caranya mengimplementasikan penghitungan sederhana, seperti penambahan dan pengurangan.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman dalam bermain balok dan puzzle dapat meningkatkan kemampuan spasial anak-anak. Di mana, keterampilan yang dihasilkannya pun dapat mendukung pemecahan masalah matematika yang kompleks ketika menginjak jenjang sekolah menangah dan atas kelak,” jelas peneliti dari University of Delaware Brian N. Verdine. (amr)
Untuk membuktikannya, para peneliti menguji 100 anak berusia sekira tiga tahun dari berbagai tingkat sosial ekonomi yang berbeda. Mereka diuji apakah dapat mengetahui bagian balok atas dan bawah serta mampu menyeleraskan potongan demi potongan.
Hasilnya sebagaimana dilansir dari Eurekalert, Selasa (24/9/2013), anak berusia tiga tahun dari keluarga berpenghasilan rendah lebih banyak tertinggal dalam keterampilan spasial, karena pengalaman bermain dengan balok dan mainan lainnya sebagai fasilitas pengrmbangan keterampilannya itu terbatas.
Adapun keterampilan matematika para balita itu dapat dilihat melalui caranya menyusun balok dan bagaimana caranya mengimplementasikan penghitungan sederhana, seperti penambahan dan pengurangan.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman dalam bermain balok dan puzzle dapat meningkatkan kemampuan spasial anak-anak. Di mana, keterampilan yang dihasilkannya pun dapat mendukung pemecahan masalah matematika yang kompleks ketika menginjak jenjang sekolah menangah dan atas kelak,” jelas peneliti dari University of Delaware Brian N. Verdine. (amr)
No comments:
Post a Comment