Ayunda W Savitri - Okezone
Ilustrasi (Foto: Softpedia)
CALIFORNIA - Para ilmuwan mengatakan bahwa
seorang psikopat (orang yang mengalami gangguan kejiwaan) secara
biologis tidak mampu berempati. Hal ini dikarenakan area otak yang
bertugas mengontrol respon emosional tersebut mati atau gagal
diaktifkan.
Sehingga, hal itu mempengaruhi proses pengambilan keputusan dan ranah afektifnya. Untuk mengetahui lebih lanjut, para ilmuwan pun melakukan serangkaian percobaan terhadap 121 narapidana di sebuah penjara di Amerika Serikat (AS). Demikian dilansir dari Softpedia, Kamis (26/9/2013).
Para tahanan diminta untuk melihat gambar-gambar yang menunjukkan berbagai bentuk penyiksaan terhadap fisik. Sementara narapidana sedang menyaksikan gambar tersebut, tim peneliti merekam aktivitas otak mereka dengan menggunakan fungtional magnetic resonance imaging (fMRI).
Hasilnya, striatum ventral yang merupakan daerah otak terkait dengan kesenangan para psikopat meningkat. Dengan kata lain, mereka sangat menikmati membayangkan atau melihat orang lain kesakitan.
“Membayangkan rasa sakit atau berada dalam kesusahan dapat memicu afeksi kuat pada diri mereka. Sehingga, mereka merasa senang dan menikmatinya. Untuk itu, kami rasa terapi kognitif-perilaku baik untuk teknik pendekatan ke para psikopat,” ungkap salah satu peneliti dalam jurnal Frontriers in Human Neuroscience. (amr)
Sehingga, hal itu mempengaruhi proses pengambilan keputusan dan ranah afektifnya. Untuk mengetahui lebih lanjut, para ilmuwan pun melakukan serangkaian percobaan terhadap 121 narapidana di sebuah penjara di Amerika Serikat (AS). Demikian dilansir dari Softpedia, Kamis (26/9/2013).
Para tahanan diminta untuk melihat gambar-gambar yang menunjukkan berbagai bentuk penyiksaan terhadap fisik. Sementara narapidana sedang menyaksikan gambar tersebut, tim peneliti merekam aktivitas otak mereka dengan menggunakan fungtional magnetic resonance imaging (fMRI).
Hasilnya, striatum ventral yang merupakan daerah otak terkait dengan kesenangan para psikopat meningkat. Dengan kata lain, mereka sangat menikmati membayangkan atau melihat orang lain kesakitan.
“Membayangkan rasa sakit atau berada dalam kesusahan dapat memicu afeksi kuat pada diri mereka. Sehingga, mereka merasa senang dan menikmatinya. Untuk itu, kami rasa terapi kognitif-perilaku baik untuk teknik pendekatan ke para psikopat,” ungkap salah satu peneliti dalam jurnal Frontriers in Human Neuroscience. (amr)
No comments:
Post a Comment